Rabu, 29 September 2010

Studi Pemikiran Hassan Hanafi (Teori Rekonstruksi Teologi)

PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER:

STUDI PEMIKIRAN HASSAN HANAFI

(Teori Islam Kiri dan Rekontruksi Teologi Islam)

Oleh: Nanang Asmara

A. PENDAHULUAN

Hasan Hanafi bukanlah nama yang asing di telinga akademis masyarakat Indonesia, terutama yang genar membaca karya tentang kebangkitan Islam. Dalam pemikirannya ia dapat disejajarkan dengan tokoh pemikir Islam yang lain seperti Fazlur Rahaman, Mohammad Arkoun, Ali Syariati, M. Sahrur, Ismail Raji Al Faruqi, Sayyed Hossein Nasr, Salman Rushdie, Ali Asghar E. dan lain-lain. Hasan Hanafi merupakan tokoh yang berbeda dengan pemikiran Islam yang lain pemikirannya lebih mengedepankan al turats wa tajdid (tradisi dan pembaharuan). Hasan Hanafi dalam forum internasional juga dikenal dengan “Kiri Islam”.

Dalam membaca pemikiran Hasan Hanafi yang terasa adalah adanya gugatan terhadap tradisi lama Islam. Gugatan tersebut bukan hanya terhadap tradisi paradigma klasik dalam ushuluddin tetapi juga terhadap terdisi dan konvensi teknis dikalangan muttakalimun dalam pembahan ilmu ini. Bahwa menurut Hasan Hanafi bahwa ulma klasik dalam mukadimahnya telah memperlihatkan pembahasan keimanan pada pendahuluan hingga seakan-akan merupakan kesimpulan. Sedangkan pembahasan antara mukadimah dan kesimpulan merupakan sesuatu yang tidak berarti. Sebenarya ungkapan muatan keimanan sering mengabaikan argumentasi.

Riwayat Hidup

Hassan Hanafi lahir di Kairo, 13 Februari 1935, dari keluarga musisi. Pendidikannya diawali di pendidikan dasar, tamat tahun 1948, kemudian di Madrasah Tsanawiyah ‘Khalil Agha’, Kairo, selesai 1952. Selama di Tsanawaiyah ini, Hanafi sudah aktif mengikuti diskusi-diskusi kelompok Ikhwanul Muslimin, sehingga tahu tentang pemikiran yang dikembangkan dan aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan. Selain itu, ia juga mempelajari pemikiran Sayyid Quthub tentang keadilan sosial dan keislaman.

Tahun 1952 itu juga, setamat Tsanawiyah, Hanafi melanjutkan studi di Departemen Filsafat Universitas Kairo, selesai tahun 1956 dengan menyandang gelar sarjana muda, terus ke Universitas Sorbone, Prancis.5 Pada tahun 1966, ia berhasil menyelesaikan program Master dan Doktornya sekaligus dengan tesis ‘Les Methodes d’Exegeses: Essei sur La Science des.

Beberapa Karya Hasan Hanafi

Sebagaimana dalam bukunya yang telah diterbitkan oleh paramadina Oksidentalisme; Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat yang dalam judul aslinya Muqadimah Fi Ilm Al Istighrab. Dalam karya tersebut ia mgajak kepada pembacanya berjihad melawan barat, tepatnya berteologi untu kepentingan pembebasan. Jika dilihat dari sprektur teoritis-filosofis watak pemikiran Hasan Hanafi kiri revolusioner. Sebagai seorang yang memiliki sense of reality yang kuat, Hasan Hanafi memiliki pandangan sangat empiris atau membumi.

Hasan Hanafi juga telah menerbitkan sebuah karya monumental dengan judul Min al Aqidah ila ats-tsawrah. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh paramadina dengan judul Dari Akidah Menuju Revolusi. Selain itu juga Al Yasar Al Islami (Islam Kiri).


B. POKOK-POKOK PIKIRAN

a. Kritik Terhadap Teologi Tradisional

Dalam Gagasanya tentang rekontruksi teologi tradisional, Hasan Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (teologi) sesuai dengan perubahan konteks politik yang terjadi. Teolog tradisional menurut hanafi lahir dari konteks sejarah ketika inti Islam sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, sementara konteks sosial politik saat ini sudah berubah. Islam mengalami kekalahan di berbagai medan pertempuran dalam periode kolonialisasi. Oleh karena itu kerangka konseptual lama harus di ubah karena berasal dari kebudayaan klasik, harus diubah menjadi konseptual baru yang berasal dari kebudayaan modrn.

Selanjutnya, hanafi memandang teologi bukanlah ilmu murni yang hadir dari kehampaan sejarah, melainkan merefleksikan konflik-konflik sosial politik. Oleh karena itu kritik kepada teologi merupakan hal yang sah dan dibenarkan. Menurut hanafi, Teologi bukanlah Ilmu tentang Tuhan (seperti arti secara epistimologi dari kata Theose dan logos) melainkan theology adalah ilmu tentang kata (kalam) Tuhan, Karena Tuhan itu tidak tunduk kepada Ilmu. Tuhan mengungkapkan diri dalam sabdanya yang berupa wahyu.

Hanafi ingin meletakan teologi tradisional Islam pada tempat yang sebenarnya, yakni bukan pada ilmu ketuhanan yang suci yang tidak boleh dipersoalkan lagi dan harus diterima begitu saja. Namun teologi adalah ilmu kemanusiyaan yang terbuka untuk diadakan verifikasi dan falsifikasi baik secara historis untuk kontekstualisasi ajaran Islam. Pemikiran ini juga tidak jauh berbeda dengan teolgi pembebasan yang terjadi di Kristen.

Secara praksis, teologi tradisional menurut hasan hanafi gagal menjadi idiologi yang fugsional bagi kehidupan nyata masyarakat muslim dikarenakan oleh para sikap teolog yang tidak mengaitkan teologi dengan kesadaan murni dan nilai-nilai perbuatan manusia.

b. Rekonstruksi Teologi

Melihat kegagalan teologi tradisional, hanafi mewacanakan rekonstruksi teologi Islam agar teologi Islama benar-benar menjadi Ilmu yang bermanfaat bagi manusia dan umat masa kini. Yaitu dengan melakukan rekonstruksi dan revisi , serta membangun kembali epistimologi lama menju epistimologi yang baru. Tujuan pokok dari rekonstruksi teologi adalah agar menjadikan teologi agama tidak sekedar dogma-dogma yang kosong, melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuagan sosial, yang menjadikan keimanan-keimanan tradisional memiliki fungsi secara aktua sebagai landasan etnik dan motivasi bagi manusia.

Menurut Hasan hanafi, untuk melakukan rekonstruksi teologi sekurang kurangnya dilator belakangi oleh tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, kebutuhan akan adanya sebuah idiologi yang jelas di tengah-tengah pertarungan global antara berbagai Idiologi.

Kedua, pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya, melainkan juga terletak kepada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan idiologi sebagai gerakan dalam sejarah, salah satu kepentingan praksis idiologi Islam (dalam teologi) adalah memecahkan kemiskinan dan keterbelakangan di negara-negara muslim.

Ketiga, kepentingan teologi yang bersifat praksis, yaitu secara nyata diwujudkan dalam realitas melalui realisasi tauhid dalam dunia Islam.

Menurut hasan Hanafi, Rekonstruksi teologi merupakan salah satu cara yang harus di tempuh jika mengharapkan teologi dapat memberikan sumbangan konkrit bagi kehidupan dan peradaban manusia. Oleh karena itu perlu menjadikan teologi sebagai wacana tentang kemanusiaan, baik secara eksistensia, kognitif, naupun kesejahteraan.

Selanjutnya Hanafi menawarkan dua hal untuk memperoleh kesempurnaan teori ilmu dalam teologi Islam, yaitu analisa bahasa dan analisa realitas.


C. KESIMPULAN

Hasan hanafi adalah pembaharu dalam pemikiran Islam, pokok pikiranya terletak pada bagaimana Islam dapat teraktualisasikan dalam konteks dan kehidupan yang nyata terutama dapat mentranformasikan umat islam dari keterbelakangan kearah kemajuan. Oleh kerena itu hasan hanafi melakukan kritik terhadap teologi Islam tradisional yang di nilai olehnya telah gagal dalam sisi toritis dan praktis.

Dari sisi teoritis, teologis islam tradisional gagal dalam mendapatkan pembuktian ilmiah dan filososis. Sedangkan dari sisi praksisnya gagal karena hanya menciptakan apatisme dan negativism terhadap perkembangan dan kemajuan zaman sehigga menjadikan umat islam tertinggal jauh.

Oleh karena itu hasan hanafi menawarkan rekonstruksi teologi islam agar islam menjadi agama yang tranformatif dan memiliki manfaat praksis bagi peradaban manusia.

DAFATAR PUSTAKA

Saleh, khoiruddin. 2004. Wacana Baru Filsafat. Pustaka Pelajar: Jogjakarta

Hanafi, hasan. 1996. Dari Akidah Menuju Revolusi. Paramadiana: Jakarta

Hanafi, hasan. 1996. Oksidentalisme; Sikap kita terhadap Tradisi Barat. Paramadiana: Jakarta

Hanafi, Hassan. 1999. Islam Kiri. Paramadina. Jakarta

Hasan, Ridwan ahmad. 1997. Pemikiran Hassan Hanafi
studi historis kritis gagasan reaktualisasi tradisi keilmuan.
IAIN Sunan Gunung Jati: Bandung

4 komentar:

diah_ps88 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
diah_ps88 mengatakan...

Nang.. Entri nya kok gak ditambah lagi..?

ini udah bulan Oktober Lhoo..

perpustakaan-ku mengatakan...

insyallah akan terus saya tambah

nanabachria mengatakan...

hm...boleh2.....
kunjungi blogku balik ya....
nanabachria.blogspot.com
maybe we can shar all about blog or the other...hee

Ada kesalahan di dalam gadget ini